| Pergerakan indeks saham pekan ini diprediksikan mengalami koreksi teknis seiring variatifnya data-data ekonomi global. Tapi, ada potensi technical rebound dalam gerakan intraday |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Monday, 08 February 2010 02:19 |
|
Pengamat pasar modal, David Cornelis mengatakan potensi koreksi teknis indeks pekan ini seiring variatifnya sentimen dari data-data ekonomi global. Menurutnya, penurunan market yang terjadi saat ini adalah risiko sistematis pasar, terarah dan terukur. Karena itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebab, koreksi ini semata sentimen negatif yang saling bereaksi. Ia menegaskan, pelemahan indeks saat bukan dipicu faktor fundamental (fundamental-driven ). Bahkan, penurunan ini sudah diekspektasikan sejak akhir Januari lalu. “Tidak perlu bingung, tetapi tetap waspada dan menangkap momentum ataupun peluang yang ditawarkan pasar saat ini, bargain hunting,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (7/2). Indeks pekan ini menurutnya akan bergerak dalam kisaran support 2.455 dan 2.592 sebagai level resistance-nya. Sedangkan untuk Senin (8/2) ini indeks akan bergerak dalam kisaran trading 2.493 hingga 2.568. Pada perdagangan Jumat (5/2), pekan lalu IHSG ^JKSE ditutup melemah 74,244 poin (2,86%) ke level 2.518,976. Indeks LQ45 juga anjlok 16,597 poin (3,28%) ke level 488,582. David memaparkan, pasar Sebab, spread suku bunga antara Fed Fund Rate dan BI rate saat ini masih sangat lebar yaitu 625 bps. “Apalagi peringkat utang Namun, imbuh David, tren indeks dalam jangka pendek masih akan melemah. Meskipun demikian, dalam gerakan intraday dan hariannya akan ada technical rebound yang dapat memberi gain relatif besar. “Kondisi saat ini jauh berbeda dari situasi crash tahun lalu,’ paparnya. Lebih jauh David mengatakan, data-data global saat ini masih variatif (mixed) dan tidak refleksif satu sama lain. Salah satunya adalah Gross Domestic Product (GDP) AS untuk kuartal keempat 2009 yang mencetak level 5,7% (Year on Year). Angka ini berada di atas ekspektasi 4.8%. Data tersebut menurutnya tidak mencerminkan situasi dan kondisi ekonomi AS yang sebenarnya. Sebab, terlihat perekonomian masih terperangkap dalam resesi, very dismal dan belum akan sustain. “Pertumbuhan ekonomi akan kembali melambat dan akan cenderung moderat pada kuartal kedua 2010,” imbuhnya. Pasalnya, angka pengangguran masih tinggi di level 10%. Hal ini membuat ekonomi AS dianggap belum masuk pada fase recovery. Akibatnya, diperlukan US$100 miliar untuk menstimulus penciptaan kesempatan kerja dan budget US$3,83 triliun untuk mengurangi pengangguran. “Saat ini, masalah pengangguran sebagai prioritas utama dan tantangan serius untuk ekonomi Amerika dan global,” tukasnya. Di sisi lain, harga minyak mentah global juga melemah serta berada dalam tren turun setelah inventory di AS meningkat di atas ekspektasi. Pada saat yang sama, indeks manufaktur melambatnya kenaikan demand. Sedangkan indeks manufaktur AS Januari mencapai level tertinggi 58,4. “Hal ini menandakan adanya ekspansi untuk manufaktur Amerika,” timpalnya. Lalu, naiknya personal incomes dan consumer spending 0,2% juga menambah insentif demand yang mendukung angka GDP kuartal IV 2009. Sentimen negatif muncul dari pembatasan ekspansi kredit di menutupi defisit anggaran. Hal ini memberi efek negatif lebih besar secara kumulatif dan sistematis dibandingkan utang signifikan 0,84% (month on month) dan 3,72% (year on year) terutama bersumber dari inflasi inti, dan efek kenaikan harga makanan 10%-15%. Selain itu, BI rate mengekor pada kebijakan suku bunga the Fed yang masih mempertahankan kebijakan suku bunga rendah. “Kenaikan Fed nanti pada semester kedua 2010 akan memicu arus modal asing keluar karena kekhawatiran carry trade dolar AS,” ungkapnya. Saham-saham pilihan David adalah PT Aneka Tambang (ANTM), PT Astra Internasional (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bumi Resources (BUMI), PT Barieland Development (ELTY), PT Indika Energy (INDY), dan PT Telkom (TLKM). “Saya rekomendasikan buy on weakness and play swing trading!” pungkasnya |
| Last Updated on Monday, 08 February 2010 04:36 |

Contact Us



