Suba Indah, Tbk ( SUBA )
PT Suba Indah Tbk (SUBA) optimis kinerja tahun ini lebih baik ketimbang tahun 2005 yang mengalami kerugian bersih Rp131,1 milyar. Kendati masih negatif, namun tahun ini perseroan diprediksi akan lebih rendah seiring dengan dihentikannya divisi produksi tepung akibat tingginya bahan baku jagung dari Rp900 per kg menjadi Rp1.500 per kg.
Lippo Karawacit , Tbk (LPKR )
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) akan membagikan dividen tunai tahun buku 2005 sebesar Rp58,656 milyar. Perseroan sampai sejauh ini belum dapat memastikan besarnya nilai dividen per saham karena masih adanya kemungkinan pengeluaran saham baru akibat adanya pelaksanaan Waran Seri I. Nilai dividen baru diketahui pada saat recording date pada 6 Desember dan pembayaran kepada pemegang saham pada 20 Desember 2006. Cum dan dan ex dividen di Pasar Reguler dan Negosiasi masing-masing pada 1 dan 4 Desember mendatang. Sementara cum dan ex dividen di Pasar Tunai jatuh tanggal 6 dan 7 Desember 2006.
Darya Varia Laboratoria , Tbk ( DVLA )
PT Darya Varia Laboratoria Tbk (DVLA) menegaskan harga penawaran tender (tender offer) saham perseroan sebesar Rp2.200 per lembar sudah final. Manajemen Darya Varia dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Jakarta (BEJ) menyatakan, investor publik mendapat kesempatan untuk menjual sahamnya dengan harga yang cukup bagus. Bila harga disetujui, maka Blue Sphere Singapura akan membeli kepemilikan saham independen sebanyak 7,3 persen dan rencana go private akan berjalan mulus. Tapi jika pemegang saham independen menolak, maka harga saham ada kemungkinan turun ke levelyang lebih rendah dan rencana menjadi perusahaan tertutup terganjal.
Bank International Indonesia, Tbk ( BNII )r
Divestasi sisa kepemilikan saham pemerintah di PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) sebesar 5,5 persen akan direalisasikan tahun ini juga. Paling lambat sisa saham tersebut akan dilepas sebelum berakhirnya tahun 2006. Tidak hanya sahamBII saja yang dilego, sisa saham pemerintah di Bank Lippo juga akan dijual meskipun tinggal 1 lot.
International Nickel Indonesia, Tbk ( INCO )
PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) memproyeksikan pendapatan usaha bertumbuh hingga 100 persen ketimbang realisasi penerimaan tahun 2005 sejumlah US$885 juta. Tingginya prediksi pendapatan perusahaan tambang itu lantaran harga nikel di pasar internasional menguat signifikan.
Apexindo Pratama Duta , Tbk (APEX )
PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) akhirnya mendapat ijin dari Departemen Keuangan (Depkeu) untuk menggunakan denominasi dolar AS dalam penyampaian laporan keuangan. Selama kurang lebih lima tahun manajemen perusahaan yang terkait dengan sektor migas itu membujuk Depkeu agar mengijinkan menggunakan denominasi dolar AS dengan maksud untuk menghindari kerugian akibat distorsi forex exchange yang berdampak pada penerimaan negara, pasalnya dengan adanya kerugian negara tidak mendapat pendapatan dari sektor pajak.
Trans Pacifik Petrochemical ( IPO )
PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) tengah mengkaji kemungkinan melakukan penawaran perdana alias initial public offering (IPO) saham PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (Trans Pacific) tahun depan. Direktur Utama PPA Mohammad Syahrial menegaskan, IPO Trans Pacific memerlukan ijin dari pemilik lama, yaitu Group Tirtamas yang dikuasai Hashim Djojohadikusumo dan Honggo Hendratmo. Di sisi lain, PPA berencana melepas sisa kepemilikan saham pemerintah di Bank Internasional Indonesia dan Bank Lippo sebelum akhir tahun 2006.
Berlian Laju Tanke , Tbk (BLTA )
PT Berlian Laju Tanker (BLTA) dan anak perusahaannya berhasil mengantongi laba bersih Rp 1,080 triliun (Rp 273 per saham) per September 2006. Itu berarti naik 177% jika dibandingkan periode yang sama 2005 sebesar Rp 390,034 miliar (Rp 95 per saham).
Fast Food Indoensia , Tbk ( FAST)
PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) diproyeksikan meraih pendapatan Rp 1,270 triliun pada 2006, naik 23,5% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 1,028 triliun
|