|
Saham PT Bumi Resources (BUMI), Selasa (16/2) diprediksikan technical rebound seiring kembali aktifnya pasar setelah libur Imlek. Strong buy untuk BUMI!
Pengamat pasar modal, Willy Sanjaya mengatakan potensi penguatan teknis saham BUMI hari ini karena potensi positifnya sentimen market. Hal ini dipicu oleh kembali aktifnya pasar setelah libur Imlek 2010.
Hari ini, menurut Willy, menjadi satu acuan sentimen positif sehingga indeks menguat. Ia memperkirakan bursa hari ini akan diwarnai pergerakan-pergerakan istimewa. “Karena itu, BUMI pun akan mengarah ke level resistance Rp2.350 dan Rp2.200 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (15/2).
Pada perdagangan kemarin saham BUMI ditutup melemah Rp50 (2,19%) menjadi Rp2.225 dibandingkan sebelumnya di level Rp2.275. Harga tertingginya mencapai Rp2.300 dan terendahnya Rp2.225. Volume transaksi mencapai 62,7 juta unit saham senilai Rp141,1 miliar dan frekuensi 2.980 kali.
Menurut Willy, pada perdagangan kemarin Bursa Indonesia dirugikan libur Imlek di sebagian besar negara Asia termasuk juga bursa Dow Jones. Akibatnya, tidak ada aktivitas yang terlalu mencolok di bursa dan sebagian besar emiten mengalami pelemahan. “Libur Imlek masih cukup panjang di negara-negara Asia terutama China,” ujarnya.
Potensi penguatan BUMI juga karena sudah terbatasnya ruang pelemahannya. Karena itu, untuk menembus level support-nya di level Rp2.200 sangat susah. “Dari sisi valuasi, tekanan jual terhadap saham sejuta umat ini sudah mereda sehingga berpeluang rebound kembali,” paparnya.
Adapun koreksi BUMI kemarin dengan volume transaksi yang sangat tipis, menurutnya tidak bisa dijadikan pegangan untuk perdagangan hari ini. “Katalis penguatan BUMI, karena valuasinya yang sudah sangat murah,” imbuhnya.
Apalagi, pasar saat ini sedang menunggu laporan keuangan perseroan untuk 2009. Diharapkan ada pengumuman yang menggembirakan sehingga pergerakannya atraktif. “Laporan keuangan BUMI akan diumumkan dalam Februari ini,” timpalnya.
Sementara itu, terkait harga minyak mentah dunia yang saat ini masih melemah di level US$74 per barel , potensi upside -nya masih terbuka lebar. Sebab, pelaku pasar sudah aktif kembali di pasar.
Lebih jauh Willy mengatakan, koreksi saham BUMI selama ini karena masih tertekan dari sentimen pajak. Padahal, BUMI sendiri sudah melakukan bantahan melalui SVP Investor Relation BUMI Dileep Srivastava. “Kita tetap memegang teguh azas praduga tak bersalah,” tuturnya.
Menurut Willy, perusahaan terbuka seperti BUMI tidak mungkin mengemplang pajak. Ia memandang BUMI tidak mungkin berani melakukan hal itu. Dalam hal pajak, perusahaan terbuka akan lebih hati-hati. “Jika nunggak, auditornya bisa disalahkan jika pengemplangan pajak sampai terjadi,” ungkapnya.
Dugaan tunggakan pajak sudah biasa terjadi di bursa. Saat ini menurutnya, kasus serupa menerpa PT Perusahaan Gas Negara (PGAS). Dalam laporan keuangannya diduga terjadi mark up. “Hal-hal semacam ini sudah sering terjadi di bursa. Nantinya akan terselesaikan dengan baik, tinggal menunggu waktunya saja,” timpalnya.
Untuk itu, Willy merekomendasikan strong buy untuk BUMI. Sebab, sekarang harga saham sejuta umat ini sangat murah. “Pada Februari ini, BUMI bisa menembus level Rp2.600-an,” pungkasnya. |